Sabtu, 02 Juni 2012

ANTOLOGI PUISI INDONESIA DI MATA PENYAIR


ANTOLOGI PUISI INDONESIA DI MATA PENYAIR


KATA PENGANTAR

Alhamdulillah segala puji bagi Allah yang telah menciptakan segala makhluk dengan bentuk yang sempurna. Yang telah memberikan karunia kepada kita sehingga ANTOLOGI PUISI INDONESIA DI MATA PENYAIR bisa kita nikmati bersama kehadirannya.
Antologi Puisi ini digarap mulai bulan Juli hingga Januari 2011, agar menghasilkan karya yang berkualitas. Menghasilkan pandangan tentang Indonesia dari segala aspek.
Membaca ANTOLOGI PUISI INDONESIA DI MATA PENYAIR, kita sebagai anak bangsa Indonesia bisa mengetahui wajah Indonesia dalam puisi di Mata Penyair.
Julukan penyair pada hakekatnya sudah bisa disandang oleh seseorang setelah menulis puisi, dalam arti yang sangat sempit. Sedangkan penyair dalam arti yang sangat luas, apabila karya puisi yang telah ditulis diakui oleh khalayak ramai. Oleh karena itu, layak tidaknya sebuah karya biarlah pembaca yang menilai.
Nilai yang dimaksudkan di sini adalah nilai dalam pandangan manusia sedangkan nilai dalam pandangan Tuhan, kembali pada niat manusia dalam melakukan segala sesuatu.
Tak ada gading yang tak retak. Begitupun dengan ANTOLOGI PUISI INDONESIA DI MATA PENYAIR sebab ini hanyalah karya kami selaku manusia, yang takkan pernah bermakna tanpa karuniaNya. Oleh karena itu, segala hal menyangkut isi tulisan ini, bisa ditanyakan langsung kepada penyairnya, atau bisa juga ditanyakan langsung kepada saya (selaku ketua penyelenggara).
Apabila dalam ANTOLOGI PUISI INDONESIA DI MATA PENYAIR ada isi yang kurang berkenan, semua timbul dari kecintaan para penyairnya terhadap Indonesia. Rasa cinta inilah yang menimbulkan puisi-puisi di dalamnya lahir. Puisi-puisi yang menyuarakan nurani penyairnya.
Ada juga karya penyair Malaysia dan ada pula karya anak bangsa yang telah merantau ke Taiwan. Aku perantau,/Melelang pedih yang menyala/Demi harapan dan cita-cita (bait terakhir PADA TANAH RANTAU) ditulis oleh Zahra Zhou. Puisi ilustrasi yang menggambarkan keadaan bangsa di tanah rantau.
Terimakasih atas segala partisipasi para penyair atau yang tak mau disebut penyair dalam membantu menyukseskan ANTOLOGI PUISI INDONESIA DI MATA PENYAIR, walau setelah berusaha berulangkali mengirimkan naskah selalu dikembalikan dan diadakan pembenahan, semoga Allah yang membalas segala kebaikan seluruh sahabat.

Al-Amien Prenduan, 17 Januari 2011

Muna Yuki Sastradirja
AKU TULIS UNTUK KAMU

Merapi tetap merendah ditengah pulau Jawa.
Diantara hiruk pikuk kepadatan manusia.
Rumor hujan meteor menyajak kerentaan semesta.
Tak kentara namun terasa dalam kidung nalar.
Seukuran hati berserenade jiwa.

Krakatau tetap tenang tak galau.
Ditengah laut ujung barat pulau Jawa.
Seakan tak ingin terusik dari kebisingan racau.
Dalam senyawa stigma politik.
Alam membuat tempat perenungan.
Untuk mengumandangkan kearifan semesta.

Bumi yang tua tampak bungkuk.
Menahan beban manusia.
Menopang rumusan limbah dan polusi.
Tetap bijak menerima mayat untuk dikuburkan.
Meskipun kotoran terserak ditanah.
Walaupun lumpur sampah setia mengalir.

Langit menyenja biru dongker.
Awan merenta putih kecoklatan.
Matahari sebegitu menyengat isi kedalaman diri.
Rembulan meraut kegamangan malam.
Untaian tautan hidup bergeser jarak keyakinan.
Antara batasan ada dan tiada ada.
Manusia berusaha mengekalkan wujud impian.
Antara dimensi hamba dan Tuhan.
Manusia menjadi pembatah yang nyata.

Terang berarak menuju gelap.
Keresahan sudah terbiasa berada dalam hati.
Kegelisahan sudah melarut setiap jarak pandang.
Manusia lahir.
Manusia hidup.
Manusia mati.
Fase-fase kisi-kisi nafas.
Mencerna kesaksian perjalanan indera.
Dari masa ke masa.

-------------------------
Jakarta, 05 Mei 2010


Syarif Hidayatullah
TENTANG MADURA YANG KUTINGGALKAN

Setiap angin jadi bisik
Membawaku pada ribuan risik
Saat gerimis dan kumulai berlari-lari
Di antara jari-jari kemarau
Yang kukunya terkelupas jadi pepadi

Di segala pematang
Kuhirup kerinduan
Kuhirup harapan
Pada nafas-nafas yang cerutu
Pada segenap tangis yang terkubur
Di nisan-nisan bebatu

Perempuan yang mengelok pada lukisan hujan
bebukit gersang tiba-tiba hilang
di antara nafas tembakau yang perawan

Jalan-jalan kecil
Seperti pipi lesung ibuku
Mengalirkan air perlahan
Menelan jejak-jejakku
Mirip perpisahan
Yang ditunjukkan Tuhan
Di mimpiku yang masih kanak

Dan kini kian nyata
Saat hujan menghantarkanku ke bilik-bilik waktu
Dan menjauhkanku pada drama hujan yang kurindu itu

Sebagian petaka melahirkan air mata
Sedang perpisahan itu bagian dari air mata
Dan ini kuanggap sebagai petaka

Zahra Zhou
PADA TANAH RANTAU
: gadis buruh migran

Tahun beku di tanganku
Tak mampu mengeluh walau telah kuperas langit
Hingga bintang-bintang hanyalah sinarMu

Najis-najis mengental seluas sajadah
Doa doa teronggok di jalanan:
Rindu menyayat air mata ibu

Aku perantau,
Melelang pedih yang menyala
Demi harapan dan cita-cita

Jubei, januari 2011


Isbedy Stiawan Zs
PANTAI KUTA

Mungkin kau akan tenggelam dan hanyut
Ombak yang deras ini akan memagut

Menghitung hari-hari
Dengan jemari legam
Sebelum selancar melarung
Ke laut paling ulung
Kecuplah pasir-pasir pantai
Tubuh-tubuh yang telentang
Mabuk yang tak kepalang
Masuk ke dalam ingatan

Entah pada hitungan ke berapa
Kau akan kembali ke tepi pantai

Atau tenggelam di dalam gulungan pasir
Yang tiba-tiba meledak
Lantakkan seluruh kota-surga
Yang diimpikan dunia

Dan ledakan itu
Akan sampai ke tubuhmu
Dan aku tak bisa pulang

Kuta 1998/2002. lampung 2002

Acep Zamzam Noor
CIPASUNG

Di lengkung alis matamu sawah-sawah menguning
Seperti rambutku padi-padi semakin merundukkan diri
Dengan ketam kupanen terus kesabaran hatimu
Cangkulku iman dan sajadahku lumpur yang kental
Langit yang menguji ibadahku meneteskan cahaya redup
Dan surauku terbakar kesunyian yang dinyalakan rindu

Aku semakin mendekat pada kepunahan yang disimpan bumi
Pada lahan-lahan kepedihan masih kutanam bijian hari
Segala tumbuhan dan pohonan membuahkan pahala segar
Bagi pagar-pagar bambu yang dibangun keimananku
Mendekatlah padaku dan dengarkan kasidah ikan-ikan
Kini hatiku kolam yang menyimpan kemurnianmu

Hari esok adalah perjalananku sebagai petani
Membuka ladang-ladang amal dalam belantara yang pekat
Pahamilah jalan ketiadaan yang semakin ada ini
Dunia telah lama kutimbang dan berulang kuhancurkan
Tanpa ketam masih ingin kupanen kesabaranmu yang lain
Atas sajadah lumpur aku tersungkur dan terkubur




Sufi Akbar
KADO

Di pagi hari yang mengigil, berkabut selimut kedinginan
Menginjak kakiku di tanah penuh luka
Buta mataku akibat dokter salah praktek
Protespun kalah akses dan upeti
Hingga telingaku seperti radar deteksi
Suara menajam

Tajamnya suara pagi hanya tangisan
Ibu tercekik hutang rentenir
Dan Ayah bagi mereka adalah sapi perahan
Diperas keringatnya membangun bangunan asing

Teringat kata ayah “aku terasing disani nak ! “
Melihat mereka mengipas kertas dolar hasil panen dari bumi pertiwi
Sedang bapak kipasan sisa koran kumal

Kami berkumpul
Aku, ayah, ibu, paman, dan adikku
Yang kebetulan lahir bulan agustus
Ingin belikan kado, Hanya saja
Ibu lahir sesuai hari kemerdekaan, tetapi layu
Akibat kantong dompet berlumut
Menunggu uluran bantuan kaum berdasi

Tibatiba paman berijasah sarjana
Dari perguruan kelewat tinggi
Hingga salah sistem
Dengan muka cemberut berkata “lihatlah orang pandai tapi ternyata bodoh”
Ayah bertanya heran karena tidak berpendidikan
: “Dimana bodohnya ? ”
Paman menjawab keras hati menjerit
: “Kita ternyata dianggap angka tanpa ekspresi,
Hingga menambah kerumitan”
Ayah menjawab dengan pasrah
: ”Sudahlah kita hanya orang kerdil yang dikerdilkan !”

Ternyata ayah pindah profesi jadi petani
Keluar dari pintu tanpa cahaya
Hanya pacul dan caping yang digunakannya,
Beralasan

Dari pada membangun bangunan asing untuk orang asing
Lebih baik memacul tanah sendiri, dan
Menunggu musim panen

Sedang aku bermimpi
Kapan aku bisa belikan ibu mesin jahit
Berharap tangan halusnya
Menjahitkan seragam merah putih
:untuk adikku
Dan menjahit bendera merah putih
Agar kampung kami dipenuhi warna merah putih

Kini ibu terkapar
Digerogoti kanker yang menjalar
Di meja kayu yang terus melapuk

Jangan kuatir, Ibu
Aku akan keluar dari pintu
Tanpa cahaya untuk merasakan kehangatan cahaya
Berjuang
Walau buta!


Ahmad Khamal Abdullah
KASYAF DANAU

Kupinjami matamu untuk menatap sisisegi rohaniahku. Menatap puingbudi, puing kasih yang tersimpang entah ke mana, menatap zarah kejadian lagi ajaib, kupinjami kedip nafas dan erangakrab yang menjulurkan makna hidup, kupinjami riak dan kecipak sirip bawal putihyang menolak muslihat sedetik, akal jahat manusia, karang berbungkuslumut hijau, krikil tajam yang tersembunyi. Wah, mustika mimpi yang kangen pada Putri Duyung. Dapatkah kau membalut nestapa yang tersangkut pada suara gemetar halus puisi pandak di malam itu hingga kubawa langsung dalam pulas tidur kembara. Kupinjami kehalusanwatak, kemesraan janji, kemestian diri, keayuan seloka, maka akumelihat diriku di segenap lapangan dan ruang. Adakah ini Kerajaan Airyang tak pernah kulalui? “Kau menggumam diriku atau maknaku?” “Kaumenatap takjub diri atau reda diri?” Maka kupinjami adab yang kucumbudari tegur pertama, dari sapaan pengelana. “Adakah jalan yang takterintis?” Maka kau berpergian jua? “Adakah waham di tengah Majlis?”Maka kau kehilangan kasih? Kupinjami suara mersik bagi menafsirHikayat dan pantun para leluhur. Negeri kita di sekitar danau ini,negeri kita yang takpernah kita pinggirkan walau seliang roma,kupinjami sikap kesayanganmu pada kesenian kata.
“Aku terpikat denganamsal dan kias!” Rindu Danau pada penyair yang pulang ke desanyasetelah jauh memapasilangit. Rindu penyair terhadap danaunya selepas danau sekian waktutergigil sepi. “Aku hamparkan seluruh kedanauanku untukmu! Dan,sudahkah kau kecapi keindahanku?” Inilah cahaya yang datang waktuhampir litup dadaku.Akulah Danau yang menatap Danaumu. Dalam rindu dan tunduk tersipu.


Soni FARID Maulana
POST CARD KAKI LIMA

1

Kabut masa depan membayang di hadapan
Badai dolar hitam merubuhkan ribuan pabrik
Pohonan tumbang bukit-bukit longsor
Kapal tenggelam dihantam gelombang lautan

"Masa depan. Masa depan, adakah bunga
Yang kelak rekah seharum, o, sewangi rupiah?"
Demikian aku dengar nyanyian si miskin
Di gelap malam di ujung gang paling kelam

Sedang jeruri besi membuka dan menutup
Bagi si koruptor kelas teri
Yang luput menangkap kelas kakap

"Masa depan. Masa depan, adakah bunga
Yang kelak rekah seharum, o, sewangi rupiah?"
Demikian aku dengar nyanyian si miskin

7

Kini aku sampai di sebuah langgar
Yang jauh dari hiruk-pikuk kota besar
Aku dengar seseorang mengaji
Dengan suara lembut orang suci

“Yang Maha Kudus selamatkan negeri kami
Dari marabahaya kaum teroris yang haus
Darah. Selamatkan iman kami dari godaan
Duniawi. Yang Maha Kudus sucikan kami!”

Detik jam kembali berdenyut di urat darah
Dan aku dengar suara itu, nyanyian itu
“Masa depan. Masa depan, adakah bunga

Yang kelak rekah seharum, o, sewangi rupiah?”
Remang cahaya bulan di telam kabut malam
Segala doa dipanjatkan menyeru Tuhan

2008
Diambil dari "Mengukir Sisa Hujan," (Ultimus, 2010)


Muhammad Zainon
INDONESIA DALAM PUISI

Akulah negeri kaya
Yang tiada terhingga kekayaannya
Tanda-tanda kehidupan lautku melimpah
Subur makmur gemah ripah loh jinawi
Malam hari para sufi memohon kepadamu Tuhan
Agar indonesia negeriku tetap dalam naungan panca sila

Al-Amien, 2010


Retno Handoko
PERJANJIAN PARA PEJUANG

Tanah ini masih saja mendung
Sepertinya tak berujung
Malah deras hujan makin tampak mengancam
Langit kelam, hitam

Tanah ini bekas perjanjian para pejuang
Darah hanyalah keringat yang terbuang
Merdeka atau mati!
Maka kami mati

Tanah ini pernah muda, pada tahun kampret

Bungabunga jatuh
Di tanah basah
Menyisakan batangbatang penuh lumut
Semrawut

Kemarin, tanah ini tanah perjanjian
Tertulis berjuta harapan bergambar boneka

Hari ini, tanah ini tanah serapahan
Tertulis maki pada nafas cacingcacing yang bergelinjang
--------------------------------------------------------------


Dimas Arika Mihardja
NURANI, GARUDA ITU

UDARA merdeka, udara mereka dihirup oleh berjuta mulut menganga. Nurani semakin tua. Ia terbatuk-batuk oleh segala bentuk pembangunan yang menyalahi aturan. Daerah Aliran Sungai tumbuh plaza, hypermarket, dan kondominium sementara di bawahnya gembel-gembel, gelandangan, dan anak jalanan menjolok bulan yang kusam. Pembangunan ekonomi yang gila-gilaan membawa bangsa ini menjadi konsumtif. Segala sesuatu diukur dengan ukuran limpahan materi.

Cuaca senja menjadikan Nurani semakin tua, bungkuk, dan tersaruk-saruk jalannya. Ia membayangkan jembatan dan jalan yang dulu ia bangun dengan gotong royong meneteskan keringat dan darah oleh kaki yang luka, ikhlas menyerahkan sebagian dari tanah dan airnya kini meruah airmata bangsa yang mengais nasib di seelokan dan tumpukan sampah pembangunan. Nurani semakin tua dan merasa sia-sia memanjatkan doa.

Burung-burung senja kembali melintas di atas mega. Garuda masih berpaling ke kanan dan di dadanya tergantung perisai yang penuh dengan simbol-simbol. Garuda itu terbang menembus mega, melabrak awan berarak, terbang bebas mengepakkan sayap-sayap keperkasaan. Nurani berbisik dalam hati, "akulah garuda yang melintas mega. Aku terbang menembus gumpalan awan menuju sarang keabadian. Ya, Allah jadikan sayapku perkasa mengepakkan doa-doa purba. Jadikan bulu-bulu di sekujur tubuhku sebagai rindu anak-cucu. Izinkan kini aku terbang menuju pulang ke sarang. Telah kulewati musim-musim pancaroba dan kini senja telah tiba. Aku terbang menuju Gerbang Istana-Mu, mengepakkan sayap-sayap rindu."

Garuda itu kini terbang di keluasan hatiku. Darahku berdebur-debur,menggelombang menerjang karang-karang kehidupan yang keras. Dinding-dinding dadaku menyatu dengan langit biru, menyimpan segala rindu.

Bengkel Puisi Swadaya Mandiri
Jambi 19 juli 2010


Kirana Kejora
GARUDA PERTIWI

Akulah sang pengembara yang tak miliki pagi,siang,malam...
Bilangan masa bagiku sama saja...
Elang sang pengembara sejati, kembali dengan bekal yang cukup tinggi
Air mata darah itu makin mengiris semua lara...
Kesakitan yang teramat sangat...
Ku terbang tinggi melibas kabut langit melalukan badai!
Paruhku mencium sesuatu
Bau apapun cinta itu akan kuat jika berasal dari kuilNYA
Sebilah rindu menyembelih membabit!
Pencapain itu baru dimulai
Masih belum selesai...
Dan sepertinya tak akan pernah selesai karena setiap helaan nafas adalah obsesi.....
Mimpi-mimpi yang harus terbeli....
Lelaki tanpa senyum
Berdiri bak patung
Matanya membuang pandang sangat jalang
Bicarapun jarang
Sekali bicara, ia bak singa lapar....
Liar, gahar
Sangar mengaumkan kekecewaan pada gurun yang telah diberinya oase sekian
banyak...
Peluhnya tak terbayar!
Jangan salahkan ia jika harus menjadi pembunuh berdarah dingin
Boleh saja kau bersyair sedih..kecewa..lara apapun yang buruk-buruk itu..
Namun ungkapkan dengan sejatinya lelaki!
Meski dengan air mata tertahan
Kalau perlu jadikan batu air mata darahmu itu!
Lalu lelaki itu datang lagi
Ia kembali untuk menggugat..menggugah..menggubah...mengubah bangsa dan negeri ini
Ia tak pernah berhenti terbang...rela mengorbankan hatinya...cintanya buat sebuah pilihan!...
Menerjang kabut,melibas savanna kering, melintas pasir panas yang berbisik...
Memburumu atasNYA
Sayap-sayap baja yang kuat buat bangkitkan bangsa yang makin lemah ini..

Ia membela ibunya

Pertiwi yang kian hari menangis darah!
Ia dengan paruh tajamnya akan mematuk mata-mata kalian!
Para pendurhaka pertiwi...ibu kita yang tak lagi kuasa menahan air mata darahnya...
Merdekalah jiwa-jiwa!
Ia telah datang dengan sebentuk cinta yang sungguh untuk sebuah pembaharuan!
Geliat liat tubuhnya dan tubuhku
Adalah pemberontakan liar yang segera menggempur kau pengkhianat negeri!

Menteng Dalam Jakarta, 23 Mei 2010, buat laskar elang!


Irfan Firnanda
JEJAK DIRI

(Muntok Bangka; Giri Sasana Menumbing)

Napak tilas nenek moyang
Tubuh tubuh pendiriku lampau melayang
Kala timah timah menyusupi tongkang
Penjajah harus mereka tentang

Jejak muntok sebelah barat bangka
Kesaksian bangunan tua
Giri sasana menumbing merenta
Tempat pengasingan sang proklamator terlupa

Setelah melepas sejarah
kala Jejak mencari arah,

Kerusakan alam dan iklim menjadi wacana
Manusia enggan membaca bencana
Pencurian, pencemaran dan vandalisme hanya menjadi bahana
Mereka bangga, kala coretan liar memenuhi wahana

Indonesia tak menangis
Serumpun leluhur tak lagi menitis
Kemandirianlah yang harus merintis
Susuri tapak tentang jejak diri yang terbingkis

2010 "Irfan Firnanda"


Bahana Sang Pelangi
SALAMKU PADAMU WAHAI PERTIWI


PADA BUJUK SANGKA KUREMAS BINGKAI NURANI
PADA RESAH AMARAH KUGENGGAM ASA TAK BERBILANG
MUNGKIN PADA RASA AKU BERPIJAK PADA ANGKARA
MUNGKIN PADA SEMBILU AKU MENGAJAK RINAI MURKA

GILA ...
BODOH ...
MARAH ...
SEDIH ...
ADA SEGENGGAM BUIH DALAM DARAH
MENGALIR PASTI PENGAKUANKU ATAS DETAK-DETAK NADIKU PILU
ADA SEGELINTIR DEBU DALAM NAFAS
MENGALIR PASTI KEADAANKU ATAS DESAH-DESAH LELAH RESAH

HIJAUKU TAK LAGI HIJAU
BIRUKU TAK LAGI BIRU
KUNINGKU TAK LAGI KUNING
NAMUN HITAMKU BERTAMBAH HITAM

ADA APA PERTIWIKU
ADA APA NUSAKU
ADA APA NURANIKU
ADA APA ...
TELAH KUTANYAKAN PADA DASAR LAUT JAWA
TELAH KUTANYAKAN PADA PUNCAK GUNUNG BAWAKARAENG
TELAH KUTANYAKAN PADA BURUNG CENDERAWASIH
TELAH KUTANYAKAN PADA RIAK SUNGAI MAHAKAM

TAK ADA YANG MENJAWAB
TAK ADA YANG BERKOMENTAR
TAK ADA YANG BERKATA
DAN BAHKAN SEMUA HANYA MEMBISU

HUFFHHH

HARUSKAH KUTANYAKAN PADA PUNCAK MENARA EIFFEL
HARUSKAH KUTANYAKAN PADA KOKOHNYA GEDUNG PUTIH
HARUSKAH KUTANYAKAN PADA BUKU-BUKU YANG BERSERAK DI QOM
HARUSKAH KUTANYAKAN PADA TINGGINYA MOUNT EVEREST

BODOH AKU ..
GOBLOK ...
DUNGU AKU ...
TOLOL

HA ... IYA ...
LEBIH BAIK KUTANYAKAN PADANYA
SEKUMPULAN OMBAK YANG MENGHEMPAS ACEH
SEKUMPULAN AWAN PANAS YANG MENARI DI MERAPI
SEKUMPULAN AIR YANG MENGGENANG DI JAKARTA
ATAU PADA
SEKUMPULAN TANGIS BAYI YANG DITEMUKAN DI TONG SAMPAH

AKU CERDAS
AKU HEBAT
AKU BRILLIAN
DAN AKU TERTAWA ATAS KECERDASANKU YANG TAK TERHINGGA

SALAM ATASMU DIMANA AKU BERPIJAK
SALAM ATASMU DIMANA LANGIT KUJUNJUNG
SALAM ATASMU BUNDA
SALAM ATASMU PERTIWI


Badut 'PC'
KEMBALIKAN PARU-PARU BANGSAKU


Aku sudah bosan dengan aroma tulisan
: Anyirnya darah

Bagaimana jika ku ganti suasana lukisan
: Air dan tanah

Ah, selalu saja kita menghasilkan luka goresan
: Banjir yang parah

Manusia,
Kembalikan laut dan hutanku!

10 Januari 2010


Noer Komari
MENATAP INDONESIA

Kucoba naik ke ujung puncak Merapi
Dan menatap Indonesia
Ternyata semua masih berabu kelabu

Kucoba mendaki ke puncak tertinggi Bromo
Dan menatap Indonesia
Ternyata semua masih berpasir debu

Kucoba naik ke puncak es Jayawijaya
Dan menatap Indonesia
Ternyata semua masih putih membatu

Kucoba naik ke puncak Monas
Dan menatap Indonesia
Ternyata semua masih telanjang malu

NK, Bjb, 15 Jan 2011


Jumardi Putra
MENTAWAI

Mentawai porak poranda
Gamang membayang

Tetapi
Pilu tak boleh menggurita
Kami mesti berlayar menebar jala di samudra asa


Ummi Hasfa
ADA SURGA

Ada
surga di negeriku
Andai malaikat - malaikat kami tak pergi dan mati muda

Atau dibunuh
Kreasi dan inspirasinya.


Nero Taopik Abdillah
PUISI UNTUK BOEDI

Bagaimana kabarmu Boedi? lama kita tak bersua
Aku ingin mengenang puisi yang pernah kita bacakan sebagai tanda kesetiakawanan
Di sebuah padang yang kemudian kita kenal sebagai medan
perang
Sebuah padang kembang yang merah yang putih yang merah putih yang merah darah yang putih tulang.

O, kenangan
Padang telah menjadi kebun ilalang. Kampung kita sudah tak punya cukup ruang untuk menanam kembang, sedang engkau menua dalam denyut kota Pernah aku cari engkau ke gunung-gunung ke laut ke goa-goa ke langit-langit pertobatan hingga ke sela-sela lumut. Kemudian aku hanya mencium baumu. Katanya engkau sakit :sakit apa yang kau idap Boedi?

Boedi engkau adalah aku, adalah tubuhku, adalah kekasihku
Sebelum kusudahi hidup ini, sebelum aku gantung diri atau sebelum aku mati suri
Izinkan aku bertanya : kapan engkau bereinkarnasi menjadi aku menjadi tubuhku menjadi kekasihku. Menjadi merah menjadi putih menjadi merah putih menjadi merah darah menjadi putih tulang.

Kau tahu Boedi
Aku ingin menjadi matamu yang bulat hitam
Lalu membaca puisi, menanam kembang di kampung ibu.

Tasikmalaya, November 2010
Ach. Nurcholis Majid

ABRA KADABRA FULUSA

Semalam, sepotong ranting lepas dari pohonnya. Ia bunuh diri di malam yang gelisah, saat bulan kehilangan gairah dan luluh dalam kelam. Ada kemelut yang tak menemukan dingin dan tak menemukan peraduan, ia adalah negeriku tanah bagi darah dan tulang-belulangku.

Semakin hari semakin kabur cuaca di negeriku, ia menjadi sebuah ruang kosong dengan sekian penyihir tanpa rumah gelisah dan belas kasih. Karenanya, siapapun boleh berlaku dengan hajat apapun ia inginkan. Boleh membuat gemeratuk untuk mengesankan gigil, menyalakan api kemudian membakar pasar-pasar, untuk mengusir pedagang yang gelisah tanpa mata uang tetap. Sudah tidak ada cuaca yang asli di negeriku.

Angin hampir purna, embun hampir tiada, tetapi bulan terus dimatikan berulang-ulang. Penyihir telah merobek-robek poster-poster kebenaran dengan angkuh. Caranya sudah pasti, menciptakan poster-poster kecantikan dengan abra kadabra fulusa. Ah, negeriku, setelah terbangun dari tidurku, kau hanya menjadi sekumpulan batu, tanah dan gunung-gunung yang angkuh. Matahari pecah telah menjadi percikan api.



Moh. Ghufron Cholid
AKULAH BHINEKA TUNGGAL IKA

Akulah bhineka tunggal ika
Ruh dari segala raga
Udara dari segala nafas Indonesia
Beriring ridhaNya

Kamar Hati,2011

BIODATA PENYAIR

Muna Yuki Sastradirja, lahir 27 April 1980. Kini tinggal di Jln Petamburan VII, Rt. 009/06 No. 21 Kelurahan Petamburan Kecamatan Tanah Abang. Kode Pos 10260. Jakarta Pusat. No 021 95113933

Syarif Hidayatullah menulis puisi dan cerpen di berbagai media massa. Karyanya tersebar di berbagai antologi seperti Dian Sastro For President End Of Trilogy (On Off, 2005), O. De (Sanggar Sastra Al-Amien, 2005), Mengasah Alif (Sanggar Sastra Al-Amien, 2005), Perempuan Joget Hutan (Sanggar Sastra Al-Amien, 2006), Kumpulan Cerpen Terbaik Lomba Menulis Cerpen 2008 (INTI DKI Jakarta, 2008), Antologi Puisi Berbahasa Daerah (Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Barat, 2008), antologi puisi sampena pertemuan penyair nusantara ke-3 Kuala Lumpur, Rumpun Kita (PENA, 2009), Bukan Perempuan (Grafindo, 2010), Puisi Menolak Lupa (Obsesi, 2010), Berjalan ke Utara (ASAS, 2010), Orang Gila yang Marah pada Tuhannya (Sanggar Sastra Al-Amien, 2010), Si Murai dan Orang Gila (KPG, 2010), dan Empat Amanat Hujan (KPG, 2010).

Zahra Zhou, memiliki nama lengkap Zuhrotul Makrifah binti Abdul Hamid. Lahir di Kendal, tanggal 12 oktober 1989. Menyelesaikan pendidikan di SMA 1 CEPIRING pada tahun 2007 dan bekerja sebagai perawat orang jompo di Taiwan sejak januari 2008-2011 demi meraih cita-cita. Berdomisili di No. 480 sec. 1 Sanfong Road Baoshan Township Hsinchu County 30844 Taiwan(ROC) sementara domisili di Indonesia di Dk. Raharjo Ds. Lebosari Rt. 01 Rw. 07 Kec. Kangkung Kab. Kendal Jateng 51353.

Isbedy Stiawan ZS. Saya lahir di Tanjungkarang, Lampung pada 5 Juni 1958 dan hingga kini masih menetap di kota yang sama. Saya merupakan anak keempat dari delapan bersaudara pasangan Zakirin Senet (alm) bersuku Bengkulu dan Ratminah (Winduhaji, Sindanglaut, Cirebon). Saya memiliki lima anak dan dua cucu, buah perkawinan dengan istri tercinta, Adibah Jalili. Anak-anak saya: Mardiah Novriza (26), Arza Setiawan (24), Rio Fauzul (21), Khairunnisa (15), dan Abdurrobbi Fadillah (9) Menjadi pengarang adalah pilihan hidup saya. Selain menulis karya sastra (cerpen, puisi, esai sastra), kini saya aktif di Dewan Kesenian Lampung dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Lampung. Pernah diundang ke berbagai pertemuan sastra dan budaya di Tanah Air dan luar negeri seperti Malaysia, Thailand. Sempat membacakan puisi-puisinya di Utan Kayu Internationan Binnale (2005), Ubud Writers and Readers Festival (2007), dan lain-lain. Karya-karya sasya dipublikasikan di Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Suara Pembaruan, Jawa Pos, Suara Merdeka, Sinar Harapan, Suara Karya, Pikiran Rakyat, Republika, Horison, Kedaulatan Rakyat, Lampung Post, Radar Lampung, Riau Pos, dll.

Acep Zamzam Noor dilahirkan di Tasikmalaya, 28 Februari 1960. Masa kecil dan remajanya dihabiskan di lingkungan Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya. 1980 menyelesaikan SLTA di Pondok Pesantren As-Syafi’iyah, Jakarta. Lalu melanjutkan pendidikannya ke Jurusan Seni Lukis Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB (1980-1987). Mendapat fellowship dari Pemerintah Italia untuk tinggal dan berkarya di Perugia, Italia (1991-1993). Mengikuti workshof seni rupa di Manila, Filipina (1986), mengikuti workshop seni grafis di Utrecht, Belanda (1996). Mengikuti pameran dan seminar seni rupa di Guangxi Normal University, Guilin, dan Guangxi Art Institute, Nanning, Cina (2009).Puisi-puisinya tersebar di berbagai media massa terbitan daerah dan ibukota. Juga di Majalah Sastra Horison, Jurnal Kebudayaan Kalam, Jurnal Ulumul Qur’an, Jurnal Puisi serta Jurnal Puisi Melayu Perisa dan Dewan Sastra (Malaysia). Sebagian puisinya sudah dikumpulkan antara lain dalam Di Luar Kata (Pustaka Firdaus, 1996), Di Atas Umbria (Indonesia Tera, 1999), Dongeng Dari Negeri Sembako (Aksara Indonesia, 2001), Jalan Menuju Rumahmu (Grasindo, 2004), Menjadi Penyair Lagi (Pustaka Azan, 2007) serta sebuah kumpulan puisi Sunda Dayeuh Matapoe (Geger Sunten, 1993) yang menjadi nominator Hadiah Rancage 1994. karya-karya puisinya diterjemahkan kedalam berbagai bahasa seperti bahasa Inggris, Belanda, Jerman, Portugal dan bahasa Jepang serta bahasa Arab. Berbagai penghargaan di bidang sastra diraihnya dan berbagai kegiatan sastra baik di dalam maupun di luar negeri diikutinya. Kini Acep tinggal di kampungnya, Cipasung, lima belas kilometer sebelah barat kota Tasikmalaya. Bergiat di Sanggar Sastra Tasik (SST) dan Komunitas Azan seraya menulis.

Sufi Akbar adalah seorang penulis novel SAIFULOSOFI, kuliah di FMIPA jur Farmasi UII Yogyakarta, latar belakang hidupnya inilah yang menginspirasi melahirkan puisi berjudul KADO. Ada pun karir yang dijalaninya yakni, seorang Sekjend Komisariat PMII UII Yogyakarta,Ketua Komisariat PMII UII Yogyakarta, Bendahara PMII DIY. Karya lainnya bisa dibaca di sang-sunyi.blogspot.com. Kalau ingin lebih mengenal penyair bisa menghubunginya via email:gussufi@yahoo.com atau cp:083869944862.

Ahmad Khamal Abdullah adalah seorang Dato Dr Kemala, poet and literary professor at University Putra Malaysia; President of MCLA since 1993. He read poems at iip 2002 and also at world poetry festivals.He was fellow of IWP, Iowa University, US in 1993.Pemenang SEA Write Award (1986); gelar pujangga dari Universiti Pendidikan Sultan Idris, Tanjung Malim(2003); menerima Anugerah Abdul Rahman bin 'Auf (2006); menerima Anugerah Tokoh Sasterawan Siber Selangor (2010). Kumpulan puisinya Meditasi (1972), Ayn (1983), Titir Zikir (1995), MIM (1999) memenangkan hadiah Sastera Perdana Malaysia. Dia secara aktif berpartisipasi dengan sasterawan Indonesia semenjak 1976 lagi membaca puisi dan menulis kertas kerja. Dia menerbitkan antologi puisi Nusantara Musibah Gempa Padang (2009) dan Meditasi Dampak 70 (2011). Menerima gelar Dato Paduka Mahkota Selangor (2001). Pada tahun 1993 dia sebagai fellow di IWP, University of Iowa, Amerika Serikat. Kini sebagai Sarjana Tamu pada Universiti Putra Malaysia.

Soni Farid Maulana lahir 19 Februari 1962 di Tasikmalaya, Jawa Barat, dari pasangan Yuyu Yuhana bin H. Sulaeman dan Teti Solihati binti Didi Sukardi. Masa kecil dan remaja, termasuk pendidikannya, mulai tingkat SD, SMP, dan SMA ditempuh di kota kelahirannya. Tahun 1985, Soni menyelesaikan kuliah di Jurusan Teater, Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) sekarang Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung. Saat ini bekerja sebagai jurnalis di HU Pikiran Rakyat Bandung, dan pernah mengelola lembaran seni dan budaya Khazanah bersama teaterawan Suyatna Anirun. Aktif menulis puisi sejak tahun 1976. Sejumlah puisi yang ditulisnya dipublikasikan di berbagai media massa cetak terbitan daerah dan ibukota seperti HU Pelita, HU Berita Buana, HU Sinar Harapan, HU Prioritas, HU Suara Karya Minggu, HU. Bandung Pos, HU Suara Pembaruan, HU Pikiran Rakyat, HU Kompas, HU Tempo, dan HU Republika. Juga dimuat di Majalah Sasra Horison, Jurnal Puisi, Jurnal Ulumul Qur’an, Jurnal Puisi Renung, dan Jurnal OrientiĆ«rungen (Jerman.Sejumlah puisi yang ditulisnya sudah dibukukan dalam sejumlah antologi puisi tunggal, antara lain dalam antologi puisi Variasi Parijs van Java (PT. Kiblat Buku Utama, 2004), Secangkir Teh (PT. Grasindo, 2005), Sehampar Kabut (Ultimus, 2006), Angsana (Ultimus, 2007), Opera Malam (PT. Kiblat Buku Utama, 2008), Pemetik Bintang (PT Kiblat Buku Utama, 2008) dan Peneguk Sunyi (PT Kiblat Buku Utama, 2009), Mengukir Sisa Hujan (Ultimus, 2010) dam Antologi Puisi Bersama seperti dalam Antologi Puisi Indonesia Modern Tonggak IV (PT Gramedia, 1987), Winternachten ( Stichting de Winternachten, Den Haag, 1999), Angkatan 2000 (PT. Gramedia, 2001), Dari Fansuri Ke Handayani (Horison, 2001), Gelak Esai & Ombak Sajak Anno 2001(Penerbit Buku Kompas, 2001) Hijau Kelon & Puisi 2002 (Penerbit Buku Kompas, 2002) Horison Sastra Indonesia (Horison, 2002), Puisi Tak Pernah Pergi Penerbit Buku Kompas, 2003) Nafas Gunung (Dewan Kesenian Jakarta, 2004) dan Living Together (Kalam, 2005), Antologia de PoĆ©ticas (PT Gramedia, 2009) dan sejumlah antologi puisi lainnya.Berbagai kegiatan sastra digelutinya baik di dalam negeri maupun diluar negeri.Dalam berkarya sastra, selain menulis puisi, Soni menulis pula esai, dan cerita pendek. Esainya tentang puisi dibukukan dalam Menulis Puisi Satu Sisi (Pustaka Latifah, 2004), Selintas Pintas Puisi Indonesia (Jilid 1, PT. Grafindo, 2004, dan Jilid 2, 2007). Sedangkan sejumlah cerita pendek yang ditulisnya antara lain dibukukan dalam Orang Malam (Q-Press, 2005). Di samping itu, namanya dicatat Ajip Rosidi dalam entri Enslikopedi Budaya Sunda (PT. Pustaka Jaya, 2000) dan Apa Siapa Orang Sunda (Kiblat Buku Utama, 2003).

Muhammad Zainon, lahir di Sumenep 26 April 1971. Pernah mengikuti Workshop baca puisi bersama WS Rendra di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta. Juara baca puisi tak terbantahkan sampai saat ini se Madura (penyelenggara teater Akura UNIRA) Pamekasan. Dramawan terbai dalam lakon Syayyid Qutub se Pondok Pesantren Modern Gontor, Ponerogon (Delegasi Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, 1992). Prestasi fenomenal juara pertama baca puisi se Jawa Timur 2 kali, Juara 1 Porseni SMA se Jawa Timur di Tulungagung, 1990 dan juara 1 baca puisi secabang IAIN Sunan Ampel Jawa Timur, 1995.

Retno Handoko memiliki nama pena Jurang Sepi, lahir di Langkat, Sumatera Utara seorang Mahasiswa Universitas Islam Sumatera Utara jurusan sastra Inggris. Kini berdomisili di Bekasi. Kalau ingin mengenal penyair bisa menghubunginya di 081282825491

Dimas Arika Mihardja adalah seorang penyair Angkatan 2000 dan sekaligus seorang dosen puisi di Universitas Jambi

Kirana Kejora dengan nama pena Eagle fly alone Terlahir di kota Ngawi, 2 Pebruari, single figther dari dua matahari titipan Tuhan, ”ELANG” Arga Lancana Yuananda (15) dan ”EIDELWEIS” Bunga Almira Yuananda (10). Mulai mencintai kertas dan pena sejak usia 9 tahun. Cinta pada puisi, prosa dan seni peran meski tak pernah ada dukungan formal sepanjang hayat. Just ordinary people. Hanya lulusan cumlaude Fakultas Perikanan Univ. Brawijaya yang dulu hanya jurnalis sebuah tabloid kecil di Surabaya, penulis lepas beberapa media cetak, dan kebetulan pernah menjadi Pemakalah, Pembicara pada Seminar Wajah Kepengarangan Muslimah Nusantara Di Malaysia pada tahun 2009. Merasa besar dan belajar di jalan, gunung, gurun, laut, dan langit yang terus dirunut bersama kawan, sahabat, dan saudara yang ditemukan di manapun.Juga banyak belajar pada debu dan angin. Dan merasa wajib terus belajar, berujar, mengejar, setelah kebetulan lagi, bisa menulis 30 Script Film TV, 4 Script Film Layar Lebar, 3 video klip solois Nena (script & director), video klip single ”Aku Selingkuh” by Ade Virguna (script & director) dan kolaborasi 8 puisi dalam album Selingkuh (independent album) dengan Ade Virguna (gitaris Jet Liar dan RriD), serta Alhamdulillah bisa menulis buku Kepak Elang Merangkai Eidelweis (Novelete & Antologi Puisi Tunggal), Selingkuh (Antologi Tunggal Cerpen & Puisi), Perempuan & Daun (Antologi Tunggal Cerpen & Puisi), berbagi puisi di buku Musibah Gempa Padang (Antologi Penyair Indonesia-Malaysia), dan kembali bisa melahirkan Elang (Novel) dan Janji Biru Mahameru (Novel). Kirana Kejora merasa masih menjadi sehelai bulu ayam yang ingin menjadi sayap elang.

Irfan Firnanda, lahir di Jakarta, June 10, 1982. Memiliki hobi membaca, menulis, mendengarkan musik dan menonton film. Kini berdomisili di JL. Elang 10 Blok E16/05 Rt/Rw. 006/013. Kel. Cimuning, Kec. Mustika Jaya, Bekasi Timur Regency - Kota Bekasi. Kalau lebih ingin mengenal pnyair bisa menghubunginya di 0812 789 999 44 / 0811 811 8960 / 021 – 972 923 07/021 – 8261 2043 atau via email : irfan_firnanda@yahoo.com

Bahana Sang Pelangi merupakan nama pena Abu Baqier, lahir di Samarinda Kalimantan Timur, tanggal 01 Januari, alumni fakultas Ushuluddin Jurusan Aqidah Filsafat, IAIN Alauddin Ujungpandang.

Badut 'PC' Gila, lahir di Surabaya 16 November dan berdomisili di Surabaya. Segala hal yang ingin ditanyakan pada penyair bisa melalui phone: 03172722355 – 085850404446.

Noer Komari, dilahirkan di Surabaya
, tgl 10 Okt 1967..Sekarang berprofesi sebagai dosen kimia di Univ. Negeri di Banjarbaru Kalsel...menulis puisi dan sajak hanya kesenengan utk melampiaskan dan melembutkan jiwa....
Jumardi Putra. Lahir di pelososk Nusantara, Desa Empelu, Kecamatan Tanah Sepenggal, Kabupaten Bungo-provinsi Jambi (1986). Di samping dimuat di beberapa media massa lokal Sumatra
, beberapa puisinya telah dibukukan dalam Antologi Bersama ; Beranda Senja (Kosa Kata Kita Jakarta, 2010), Antologi Festival Bulan Purnama Majapahit Trowulan 2010, (Dewan Kesenian Mojokerto, 2010) dan Menjaring Cakrawala (2010). Hingga kini, Antologi Tunggal sedang dalam proses penseleksian. Aktif di berbagai kegiatan sastra, salah satunya pada tahun 2010, mengikuti Seminar Sastra dan Ideologi Se Asia Tenggara yang diselenggarakan oleh MASTERA (Majelis Sastra Asia Tenggara) dan Pusat Bahasa Kementerian Pendidikan Nasional di Jakarta.
Hingga kini, berproses kreatif bersama teman seniman-budayawan Jambi. Salah satunya, menjabat Wakil Ketua Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) Komisariat Kabupaten Bungo-Provinsi Jambi. Penulis bisa ditemui lewat email: jumardi.putra@yahoo.com.
cp: 085267323168. Alamat rumah: Jalan Syailandra RT.14 No.02, Kelurahan Rawasari Kec. Kota Baru Jambi.

Ummi Hasfa. penikmat hujan.pecinta purnama. ummihasfa.multiply.com.

Nero Taopik Abdillah lahir di Garut 15 Juli 1983, merupakan alumni UPI Kampus Tasikmalaya. Menulis puisi baginya adalah salah satu cara mensyukuri hidup. Semasa kuliah menjadi salahseorang pendiri Komunitas Teater Cagur, kemudian mempelopori berdirinya Komunitas AKSARA (Area Komunitas Seni Sastra UPI Kampus Tasikmalaya). Saat ini berprofesi menjadi guru di SDN 2 Cikuya Kecamatan Culamega Kabupaten Tasikmalaya. Selain itu aktif menjadi pengurus Pondok Media Tasikmalaya, serta menjadi Dewan Penasehat Komunitas AKSARA. Beberapa karyanya termuat di HU Kabar Priangan, HU Radar Tasikmalaya, Kabar Cirebon, Harian Fajar Makasar, Batam Pos, Majalah Ekspresi Bali, Buetin Teras Sastra DKJT, Antologi Berjalan Ke Utara, Antologi Puisi Religi Lintas Negara “Kun Fayakun Cinta”, Antologi puisi Munajat Sesayat Doa, serta tersebar di beberapa media maya seperti situseni.com, kompasiana.com, matapelajar.com dan beberapa media maya lainnya. Segala hal mengenai penyair bisa ditanyakan langsung bia email: gerimisculamega@yahoo.co.id bisa juga lewat Handphone 081323460864


Ach. Nurcholis Majid, lahir di Masalembu 4 Maret 1988. Menyukai puisi, sesekali membuat cerpen dan esai. Karyanya dimuat di berbagai media massa nasional, terkadang memenangkan lomba tingkat nasional dan internasional. Merawat Sanggar Sastra Al-Amien Prenduan bersama kawan-kawan lainnya.

Moh. Ghufron Cholid, lahir di Bangkalan 07 Januari 1986 Putra KH. Cholid Mawardi dan Nyai Hj. Munawwaroh seorang Guru Bahasa dan Sastra Indonesia, seorang Pembina Sanggar Sastra Al-Amien (SSA), seorang Ketua Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (LPPM) Yayasan Al-Amien Prenduan. Antologi Puisi Mengasah Alief (2007,bersama 10 Penyair Angkatan 31), Antologi Puisi Yaasin (Balai Bahasa Jatim,2007 bersama penyair pesantren se Jawa Timur) Antologi Puisi Toples (2009, bersama beberapa Mahasiswa Jogjakarta) Antologi Puisi Akar Jejak (2010,bersama 50 Penyair Al-Amien), Kumpulan Puisi Heart Weather (ebook pertama 2010 di scribd.com dan ebook kedua,2010 di evolitera.co.id), Kumpulan Puisi Dari Huruf Hingga I'tikaf (ebook di evolitera.co.id, 2010), Antologi Puisi Menuju Pelabuhan (ebook pertama di scribd.com dan ebook kedua di evolitera.co.id). Antologi Puisi Ketika Penyair Bercinta (ebook pertama di scribd.com,2010 dan ebook kedua di evolitera.co.id,2010). ANTOLOGI CERPEN CINTA RELIJI LINTAS NEGARA (evolitera.co.id,2010) KUN FAYAKUN CINTA ANTOLOGI PUISI RELIJI LINTAS NEGARA (evolitera.co.id) ANTOLOGI PUISI JADWAL KENCAN (evolitera.co.id, 2011), merupakan kado ultah ke 25 berisi 25 puisi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar